Buku ini membahas Stoisisme—aliran filsafat Yunani-Romawi kuno yang dirintis oleh Zeno sekitar 300 tahun sebelum Masehi.
Cerita Awal Perkenalan
BACAAN –Sebelum masuk ke pembahasan, izinkan aku menceritakan bagaimana buku ini sampai ke tanganku. Kadang rasanya seperti ada skenario indah yang sudah disiapkan Tuhan jauh-jauh hari. Pada 5 Juni 2023, aku mengikuti sebuah acara bertajuk “Yuk Membaca” yang diadakan oleh gerakan “Rakyak Membaca”—sebuah ajakan tahunan untuk menuangkan pengalaman membacanya setiap hari selama sebulan dengan tema-tema tertentu.
Sepulang dari acara itu, aku membagikan keseruannya lewat Instagram Story. Tak disangka, unggahanku terpilih sebagai salah satu yang terbaik dan aku mendapatkan hadiah berupa paket buku. Salah satunya berjudul Filosofi Teras.
Kesan pertamaku? Jujur saja, biasa saja—bahkan cenderung tidak tertarik. Judulnya terdengar berat. “Filosofi”? Rasanya sudah terbayang bacaan yang rumit dan menguras otak. Apalagi aku bukan pembaca setia buku nonfiksi. Namun buku itu terus tergeletak di meja, sesekali menarik perhatianku. Sampai akhirnya aku membaca sinopsis di bagian belakang dan merasa, “Lho, ini kok seperti sedang membicarakan diriku?”
Sejak sekitar Juli 2023, aku mulai membacanya perlahan. Tanpa kusadari, butuh waktu kurang lebih enam bulan untuk benar-benar menuntaskannya—bukan karena membosankan, melainkan karena aku mencoba mencerna dan mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh.
Pandanganku terhadap Filosofi Teras
Jika harus merangkum pengalaman membaca buku ini dalam satu ungkapan, mungkin aku akan menyebutnya: melelahkan sekaligus menyembuhkan. Melelahkan karena aku tidak sekadar membaca, tetapi juga membuat catatan, memberi anotasi, dan mencoba memahami setiap konsepnya. Namun justru dalam proses itulah aku merasa banyak mengalami perubahan.
Buku ini membahas Stoisisme—aliran filsafat Yunani-Romawi kuno yang dirintis oleh Zeno sekitar 300 tahun sebelum Masehi. Ajaran ini kemudian berkembang hingga masa Kekaisaran Romawi. Meski berakar pada filsafat klasik, penyajiannya dalam buku ini terasa ringan dan komunikatif. Penulis berusaha menerjemahkan gagasan-gagasan Stoik ke dalam bahasa yang relevan dengan kehidupan modern.
Inti Stoisisme yang diangkat berpusat pada empat kebajikan utama: kebijaksanaan (wisdom), keadilan (justice), keberanian (courage), dan pengendalian diri (temperance). Dari sana, pembaca diajak memahami konsep hidup selaras dengan alam—yang dalam konteks manusia berarti menggunakan akal secara optimal dan menjalani peran sebagai makhluk sosial dengan bijak.
Salah satu bagian yang paling membekas bagiku adalah pembahasan tentang dikotomi (dan trikotomi) kendali. Sederhananya, ada hal-hal yang berada dalam kuasa kita dan ada yang tidak. Energi seharusnya difokuskan pada yang bisa dikendalikan. Konsep ini terasa sangat relevan di era ketika banyak orang mudah cemas, bereaksi berlebihan, atau terjebak dalam overthinking.
Penulis juga mengulas bagaimana interpretasi pribadi sering kali memperkeruh situasi yang sebenarnya netral. Banyak emosi negatif muncul bukan karena peristiwanya, melainkan karena penilaian kita terhadap peristiwa tersebut. Bagian ini seperti menamparku dengan lembut—aku yang cenderung sensitif dan mudah tersinggung akhirnya belajar melihat peran pikiranku sendiri dalam menciptakan keresahan.
Selama membaca, aku mencoba menerapkan metode S-T-A-R (Stop – Think and Assess – Respond). Ketika emosi muncul, aku belajar berhenti sejenak, menilai situasi secara rasional, lalu merespons dengan lebih terukur. Hasilnya memang tidak instan, tetapi perlahan terasa. Aku tidak lagi mudah larut dalam kesal berhari-hari seperti dulu. Bahkan dalam berkomunikasi, aku menjadi lebih berani menyampaikan perasaan tanpa terlalu takut pada reaksi orang lain.
Menariknya, sebagai seorang Muslim, aku menemukan banyak keselarasan antara Stoisisme dan ajaran agama yang kupelajari. Misalnya, prinsip bahwa perubahan menuntut usaha—sejalan dengan pesan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri berusaha mengubahnya. Begitu pula gagasan tentang berbuat baik tanpa bergantung pada balasan manusia; fokus pada tindakan, bukan hasil.
Apakah aku sudah sepenuhnya berhasil menerapkannya? Tentu belum. Mengelola emosi dan memperbaiki cara berpikir adalah proses panjang. Dalam Stoisisme ada istilah prokopton—seseorang yang sedang berproses menjadi lebih baik. Kurasa di situlah posisiku saat ini: masih belajar, masih sering gagal, tetapi setidaknya lebih sadar.
Jika harus memberi catatan, mungkin hanya soal tata letak buku yang tidak rata kanan-kiri sehingga terlihat kurang rapi bagi sebagian pembaca. Namun dari segi isi, bagiku buku ini sangat berharga. Nilai pribadiku: 4,6 dari 5.
Sebagai penutup, aku ingin menyampaikan apresiasi kepada Henry Manampiring yang telah menyajikan Stoisisme dengan cara yang membumi dan aplikatif. Buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan teman refleksi.
Semoga siapa pun yang membacanya dapat menemukan versi diri yang lebih tenang, lebih rasional, dan lebih kuat dalam menghadapi hidup.


